Just another WordPress.com site

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis  persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga dapat menyelesaikan makalah  mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia sebagai tugas akhir semester.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah khususnya ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd sebagai dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia.

Mungkin di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah  selanjutnya sangat diharapkan agar pembuatan makalah-makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini juga berguna untuk kita.

Lubuklinggau,       Januari 2011

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ………………………………………………………..                    ii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………….                    iii

BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………….………                    1

A.     LATAR BELAKANG ………………………………………….….                     1

B.     RUMUSAN MASALAH …………………………………….…….                    1

C.     TUJUAN ……………………………………………………………                  1

BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………….….                   2

1.      Pengertian Sintaksis ………………………………………………..                  2

1.1  Aspek-aspek Sintaksis ………………………………………….                 2

1.1.1        Kata : Ciri dan Klasifikasi ……………………………….                     2

1.1.2        Frase : Ciri dan Klasifikasi ………………………………                     4

1.1.3        Klausa : Ciri dan Klasifikasi ……………………………..                     4

1.1.4        Kalimat : Ciri dan Klasifikasi ……………………………                     4

2.      Pengertian Frase ……………………………………………………                  5

2.1  Penggolongan Frase …………………………………………….                  5

2.1.1        Frase Eksosentris dan Endosentris ………………………                    6

a.       Frase Eksosentris …………………………………….                  7

b.      Frase Endosentris ……………………………………                  10

2.1.2        Frase Nominal,Verbal,Bilangan,Keterangan dan Frase Depan    13

1.      Frase Nominal ………………………………………..                 14

1.1. Kategori Kata atau Frase Yang Menjadi Unsurnya                    14

1.2. Hubungan Makna Antar Unsur-unsurnya ………..                    16

2.      Frase Verbal ………………………………………….                 19

3.      Frase Bilangan ……………………………………….                  20

4.      Frase Keterangan …………………………………….                 22

5.      Frase Depan ………………………………………….                 22

BAB III. PENUTUP ……………………………………………………………                  24

A.     KESIMPULAN ……………………………………………………..                  24

B.     SARAN ……………………………………………………………..                  25

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………                    26

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       LATAR BELAKANG

Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frase,klausa dan kalimat. Dan salah satunya yang akan di bahas dalam makalah ini adalah frase.

Didalam makalah ini penulis menyajikan berbagai pengertian frase dan macam-macamnya dari beberapa sumber buku dan juga sumber elektronik sebagai sumber tambahan.

B.       RUMUSAN MASALAH

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :

1.    Apakah pengertian dari sintaksis?

2.    Apakah pengertian dari frase?

3.    Bagaimana penggolongan frase?

C.       TUJUAN

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis  Bahasa Indonesia, yaitu ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd. terutama bagian frase yang akan dibahas dalam makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.        PENGERTIAN SINTAKSIS

Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti ”dengan” dan kata tattein yang bearti ”menempatkan” jadi secara etimologi bearti : menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. Ada yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker 1969:21 dalam Tarigan 1984:5). Ada pula yang mengatakan bahwa ”analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas disebut sintaksis” (Bloch and Trager 1942:71 dalam Tarigan 1984:5). Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat” (Ramlan 1976:57). Sedangkan menurut Zaenal Arifin dan Junaiyah dalam bukunya SINTAKSIS memberikan pengertian bahwa sitaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang dibahas dalam sintaksis adalah frase, klausa dan kalimat.

1.1     Aspek-Aspek Sintaksis

Aspek-aspek Sintaksis meliputi :

1.1.1        Kata: Ciri dan Klasifikasi

Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, kata dilihat dari segi pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa, kata adalah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang dan secara potensial ujaran itudapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa, secara linguistik kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan sebagai satuan fonologis, satuan gramatikal, dan satuan ortografis.

1).  Kata sebagai satuan fonologis

Kata mempunyai ciri-ciri fonologis yang sesuai dengan ciri fonologis bahasa yang bersangkutan. Misalnya ciri fonologis kata bahasa indonesia, seperti  berikut:

a.       Mempunyai pola fonotatik suatu kata

b.      Bukan bahasa vokalik

c.       Tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir

d.      Batas kata tidak di tentukan oleh fonem suprasegmental

2). Kata sebagai satuan gramatikal

Menurut Lyons (1971) dan Dik (1976), secara gramatikal, kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.

3). Kata sebagai satuan ortografis

Secara ortografis, kata ditentukan oleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia, misalnya menggunakan aksara latin. Jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama ditulis berpisah, bukan terimakasih dan kerjasama.

1.1.2        Frase: Ciri dan Klasifikasi

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (Rusyana dan Syamsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terdiri atas Endosentris dan Eksosentris, frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan, dan Frase Depan.

1.1.3        Klausa: Ciri dan Klasifikasi

Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat.

Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya.

Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa.  Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.

1.1.4        Kalimat: Ciri dan Klasifikasi

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.

2.        PENGERTIAN FRASE

Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di  dalam suatu kalimat. Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73). Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET. Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.

2.1  Penggolongan Frase

Frase dapat di golongkan menjadi :

1.      Berdasarkan tipe strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :

Ø      Frase Eksosentris dan Endosentris

2.      Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi :

Ø      Frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.

2.1.1        Frase Eksosentris dan Endosentris

Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:

Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.

Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.

-         Mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.

Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:

Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan

*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -

*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.

 

a. Frase Eksosentris

Frase eksosentris adalah frase  yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:94) ataupun noncentered (Cook  1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).

Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional dapat dibagi attas :

a)   Frase preposisi

b)   Frase posposisi

c)   Frase preposposisi

Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.

v     Eksosentris Direktif (Frase Preposisi)

Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik, sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai keterangan.

Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :

Ø      ’tempat’, seperti di pasar dan pada dinding

Ø      ’asal arah’, seperti dari kampung, dari sekolah

Ø      ’asal bahan’, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras

Ø      ’tujuan arah’, seperti ke pasar, ke kampus

Ø      ’menunjukkan peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan

Ø      ’perihal’, seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya

Ø      ’tujuan’, seperti untukmu, buatku

Ø      ’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)

Ø      ’penjadian’, seperti oleh karena, untuk itu

Ø      ’kesertaan’, seperti denganmu, dengan ayah

Ø      ’cara’, seperti dengan baik, dengan senang

Ø      ’alat’, seperti cangkul, dengan traktor

Ø      ’keberlangsungan’, seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti

Ø      ’penyamaan’, seperti selaras dengan, sesuai dengan

Ø      ’perbandingan’, seperti seperti dia, sebagai bandingan

v            Frase Posposisi

Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang. Contoh :

ga                     ”penanda subyek”

heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.

O                     ”penanda obyek”

                                  Heitai O, mita. ”I saw a soldier

de                    ”by means of; in; on; at”

Kisya de, kita. ”I come by train”.

v        Frase Preposposisi

Frase preposposisi  adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan  dan di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase ini adalah bahasa Karo. Contoh :

i juma nari                           ”dari ladang”

i tiga nari                             ”dari pasar”

i Bandung nari                     ”dari bandung”

i jenda nari                          ”dari sini”

i jah nari                              ”dari sana”

b. Frase Endosentris

Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan, frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan 1985:142).

Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :

1.      Endosentri koordinatif

2.      Endosentris atributif

3.      Endosentris apositif

1.      Endosentris Koordinatif

Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya:

-         Rumah pekarangan

-         Suami istri

-         Dua tiga

-         Ayah ibu

-         Pembinaan dan pengembangan

-         Pembangunan dan pembaharuan

Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik …maupun dan makin … makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :

a.       Kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan atas nama klien; pintar, tetapi congkak

b.      Baik merah maupun biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.

Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori

sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik.

Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase parataktis, seperti  tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.

2.      Endosentris Atributif

Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :

-         Pembangunan lima tahun

-         Sekolah Inpres

-         Buku baru

-         Pekarangan luas

-         Orang itu

-         Malam ini

Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr).

3.      Endosentris Apositif

Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung

dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti. Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :

Surti, anak pak Tejo, sedang belajar

Surti,          -             ,sedang belajar

-                , anak pak Tejo sedang belajar

Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan aposisi (Ap).

Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :

Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,

Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik Indonesia,

Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.

Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –

2.1.2    Frase Nominal, Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan

Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :

-         Frase Nominal

-         Frase Verbal

-         Frase Bilangan

-         Frase keterangan

Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.

1.      Frase Nominal

Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :

Contoh : – ia membeli baju baru

ia membeli baju baru

Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :

- Mahasiswa lama

- Gedung sekolah

- Kapal terbang itu

- Jalan raya ini

1.1.            Kategori Kata atau Frase yang Menjadi Unsurnya

Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :

1)      N diikuti N, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal. Misalnya :

Ø      Rumah pekarangan

Ø      Ayah ibu

Ø      Suami istri

Ø      Kakak saya

Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya  terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri dan saya sebagai UP pula.

2)      N diikuti V, artinya terdiri dari kata  atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :

Ø      Orang bertopi

Ø      Ayah bekerja

Ø      Adik bermain

3)      N diikuti Bil, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :

Ø      Orang dua

Ø      Telur tiga butir

Ø      Sawah lima petak

Ø      Harimau lima ekor

4)      N diikuti Ket, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :

Ø      Koran kemarin pagi

Ø      Buku tahun kemarin

Ø      Nasi tadi pagi

Ø      Orang tadi

5)      N diikuti FD, artinya terdiri dari kata  atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :

Ø      Beras dari tetangga

Ø      Kereta api ke Surabaya

Ø      Pisang dari Ambon

6)      N didahului Bil, artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :

Ø      Sepuluh ekor ayam

Ø      Lima batang kayu

Ø      Dua buah sepeda baru

7)      N didahului Sd, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;

Ø      si Ahmad

Ø      sang Pujangga

1.2.        Hubungan Makna antar Unsur-unsurnya

Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna. Misalnya peertemuan kata rumah dengan  kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan  makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.

Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut adalah sebagai berikut :

v     Penjumlahan

Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan diantara kedua unsurnya. Misalnya :

Ø      Suami (dan) istri

Ø      Pekarangan (dan) rumah

Ø      Nusa (dan) bangsa

v    Pemilihan

Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :

Ø      Ayah atau ibu

Ø      Dua atau tiga tahun lagi

Ø      Empat atau lima kilo beras

v        Kesamaan

Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :

Ø      Bapak SBY presiden RI

Bapak SBY adalah presiden RI

Ø      Kakak  saya Ahmad

Kakak saya adalah ahmad

Ø      Rahmad mahasiswa STKIP

Rahmad adalah mahasiswa STKIP

v     Penerangan

Maksudnya adalah fungsi Atr  sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru menjadi buku yang baru. Contoh lain :

Ø            Pohon rindang

Ø            Binatang buas

Ø            Acara terakhir

v     Pembatas

Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh rumah  fauzi yang menyatakan makna rumah (milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti N. Contoh lain :

Ø                 Anggota DPR

Ø                 Buku sejarah

Ø                 Pembangunan daerah

v     Penentu atau Penunjuk

Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna ’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk. Contoh :

Ø                 Rumah itu

Ø                 Mahasiswa yang rajin itu

Ø                 Pekarangan ini

Ø                 Mobil ini

2.      Frase Verbal

Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran  :

Contoh :           Rachmad sedang makan roti di ruang tamu

Rachmad      –    makan roti di ruang tamu

Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :

- Akan pergi

- Dapat menyanyi

- Sudah pulang

- Sedang makan

Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat, sedang, baru dan tidak.

Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang terdiri dari atas gabungan  verba dan adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).

Contohnya :

1.      Pergi kerja, bangkit berlari, tegak berdiri

2.      Pulang pergi, makan minum

3.      Berlari cepat, berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.

3.      Frase Bilangan

Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut dapat dilihat dari jajarannya :

Dua ekor ayam

Dua –   ayam

Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :

Ø      Lima botol (minyak goreng)

Ø      Tujuh drigen (bensin)

Ø      Sepuluh mangkok (bakso)

Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.

Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :

Ø      tujuh belas, tiga puluh, lima puluh

Ø      dua lusin, empat gros, lima botol

4.      Frase Keterangan

Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :

Tadi pagi dewi pergi kuliah

Tadi – dewi pergi kuliah.

Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa, sekarang contoh lain misalnya :

Ø      Kemarin pagi paman datang.

Ø      Nanti malam ayah mulai ronda.

Ø      Besok saya pergi ke bandung.

5.    Frase Depan

Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :

Ø      di sebuah kota

Ø      di toko ayah

Ø      sejak kemarin sore

Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin sore sebagai aksinya.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.       KESIMPULAN

Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan mempunyai sifat nonpredikatif.

Frase dapat dibedakan menjadi :

1.      Frase Eksosntris dan Endosentris

Ø      Frase Eksosentris :

Ø      Eksosentris Direktif (frase preposisi)

Ø      Frase posposisi

Ø      Frase preposposisi

Ø      Frase Endosentris ;

Ø      Endosentris Koordinatif

Ø      Endosentris Atributif

Ø      Endosentris Apositif

2.      Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi

Ø      Frase Nominal

Ø      Frase Verbal

Ø      Frase Bilangan

Ø      Frase Keterangan

Ø      Frase Depan

B.       SARAN

Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih dalam tentang frase.

Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo

Ramlan, M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa

http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: